KALIMANTAN TIMUR — Jakarta, CNBC Indonesia — Pernyataan tersebut mengemuka di sela-sela peluncuran buku "10 Karya Nyata untuk Negeri: Setengah Abad Bahlil Lahadalia" di Jakarta. Prabowo menegaskan bahwa laporan kenaikan pendapatan itu baru sebatas indikasi awal dan masih membutuhkan pembuktian lebih lanjut.
"Saya dapat laporan bahwa revenue, penghasilan dari Danantara sudah naik 400 persen kurang lebih. Ini terus harus kita audit, terus harus kita cek," ujar Prabowo di hadapan para tamu undangan.
Kepala Negara juga memberi catatan realistis: meski nanti hasil audit menunjukkan kenaikan di bawah angka tersebut—misalnya 300 persen atau 200 persen—tetap merupakan lonjakan signifikan untuk lembaga yang baru beroperasi. "Ini tetap peningkatan yang sangat signifikan dalam satu tahun bekerja," tegasnya.
Arti di Balik Angka: Bukan Sekadar Untung Rugi
Secara ekonomi, potensi pertumbuhan pendapatan ini bukan sekadar kabar baik bagi neraca keuangan. Danantara dibentuk sebagai sovereign wealth fund (SWF) yang bertugas mengelola aset dan investasi strategis negara agar menghasilkan nilai tambah, bukan sekadar mempertahankan nilai aset.
Semakin besar pendapatan yang dihasilkan dari investasi, semakin lebar pula ruang fiskal pemerintah untuk membiayai proyek-proyek prioritas. Beberapa sektor yang diincar antara lain infrastruktur, hilirisasi industri, transisi energi, hingga ketahanan pangan. Dengan kata lain, kinerja positif Danantara bisa menjadi katalis pertumbuhan ekonomi jangka panjang.
Di sisi lain, rekam jejak yang positif juga menjadi modal penting untuk menarik minat investor global. Danantara diharapkan mampu menjadi mitra kredibel bagi sovereign wealth fund lain, dana pensiun, dan institusi keuangan dunia. Kepercayaan itu tidak datang instan—butuh bukti kinerja yang transparan dan teraudit.
Kenapa Laporan Keuangan Belum Keluar?
Hingga saat ini, laporan keuangan konsolidasi Danantara untuk tahun buku 2025 masih dalam proses penyusunan. Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, menjelaskan bahwa proses ini memakan waktu lantaran harus mengonsolidasikan laporan keuangan lebih dari 1.000 entitas dalam ekosistem Danantara.
Beban kerja tersebut bukan tanpa alasan. Tim keuangan harus melakukan eliminasi transaksi antarperusahaan agar tidak terjadi penghitungan ganda. Skala aset yang dikelola sangat besar dan berasal dari berbagai badan usaha milik negara (BUMN) yang beragam, mulai dari sektor energi hingga perbankan.
Proses audit yang ketat ini dinilai penting untuk memberikan gambaran akurat mengenai kondisi keuangan, tingkat profitabilitas, serta efektivitas strategi investasi Danantara. Tanpa audit independen, klaim kenaikan pendapatan hanyalah angka di atas kertas.
Menunggu Verifikasi, Pasar Masih Wait and See
Para pelaku pasar dan investor masih menahan diri dan menunggu publikasi laporan keuangan yang telah diaudit. Mereka ingin melihat dasar penilaian yang jelas terhadap kinerja sesungguhnya Danantara, bukan sekadar pernyataan optimistis dari pejabat.
Model pengelolaan dana seperti ini sebenarnya telah diterapkan oleh berbagai SWF besar dunia. Keberhasilan mereka biasanya diukur dari kemampuan menghasilkan return konsisten, sekaligus menjaga keberlanjutan fiskal negara. Indonesia kini sedang menempuh jalan serupa.
Apabila hasil audit nanti mendukung klaim kenaikan pendapatan tersebut, Danantara berpotensi memperkuat posisinya sebagai salah satu instrumen strategis pemerintah. Namun, jika hasilnya berbeda, publik pun berhak tahu angka sebenarnya. Pada titik inilah akuntabilitas menjadi taruhannya.