Pemerintah Kabupaten Kutai Timur menghidupkan kembali tradisi leluhur Kutai melalui Erau Adat Pelas Benua 2026 di Sangatta, Kalimantan Timur. Rangkaian kegiatan dibuka Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman, Jumat, diawali ziarah ke makam Datuk Sampai bin Lohom dan perlombaan empat olahraga tradisional di Rumah Lamin Adat. Pelestarian adat disebut menjadi modal utama pembangunan daerah agar identitas Kutai tetap diwariskan ke generasi muda.
SANGATTA — Bupati Kutai Timur Ardiansyah Sulaiman membuka rangkaian Erau Adat Pelas Benua 2026 di Sangatta. Kegiatan ini menyatukan pemerintah daerah, Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, pemangku adat, dan masyarakat dalam satu agenda pelestarian budaya.
Ardiansyah menilai adat dan budaya bukan sekadar warisan sejarah, melainkan pedoman hidup masyarakat menghadapi perubahan zaman.
"Adat dan budaya merupakan salah satu modal utama dalam pembangunan. Kalau kita tidak mengenal adat dan budaya, kita mungkin akan kesulitan melihat arah yang harus dilakukan," kata Ardiansyah saat membuka rangkaian kegiatan Erau Adat Pelas Benua di Sangatta, Jumat.
Ziarah ke Makam Datuk Sampai bin Lohom
Rangkaian kegiatan diawali dengan ziarah ke makam Datuk Sampai bin Lohom di kawasan Jalan Guru Besar. Datuk Sampai tercatat pernah menjabat sebagai kepala adat pada periode 1855-1901, bagian dari perjalanan sejarah masyarakat di wilayah Sangatta.
Ziarah dihadiri Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura Aji Muhammad Arifin, unsur pemerintah daerah, dan para pemangku adat. Prosesi ini menjadi momentum penghormatan kepada leluhur sekaligus pengingat bahwa perkembangan Kutim tidak terlepas dari perjalanan panjang masyarakat dan tradisi yang diwariskan.
Usai ziarah, kegiatan dilanjutkan dengan doa bersama dan perlombaan olahraga tradisional di Rumah Lamin Adat, Jalan Ringroad, Kecamatan Sangatta Selatan.
Menyumpit, Begasing, Belogo, dan Ketapel
Empat permainan tradisional yang ditampilkan meliputi menyumpit, begasing atau gasing, belogo, dan ketapel. Perlombaan ini bukan hanya ajang menunjukkan keterampilan, tetapi juga sarana memperkenalkan kembali permainan rakyat yang mulai jarang dijumpai di tengah perubahan gaya hidup masyarakat.
Kepala Dinas Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Kutim Basuki Isnawan menyatakan keterlibatan komunitas dan masyarakat diperlukan agar olahraga tradisional tetap dikenal dan dimainkan. Menurutnya, permainan rakyat tidak seharusnya hanya muncul saat perayaan adat berlangsung.
Basuki mengajak masyarakat, terutama generasi muda, ikut menjaga dan melestarikan permainan tradisional sebagai bagian dari kebanggaan daerah.
Harapan agar Budaya Tak Berhenti di Seremoni
Erau Adat Pelas Benua 2026 memperkuat hubungan antara pemerintah daerah, Kesultanan Kutai Kartanegara, pemangku adat, dan masyarakat. Pemkab Kutim berharap pelestarian budaya menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari warga, bukan sekadar agenda tahunan.
Dengan begitu, identitas Kutai tetap terjaga dan dapat diwariskan kepada generasi mendatang.