Review Beyerdynamic DT 275 Pro: Bass Nendang, Treble Ketutupan

Penulis: Ginanjar Raharjo  •  Jumat, 09 Oktober 2026 | 17:17:01 WIB
Headphone Beyerdynamic DT 275 Pro dipasarkan dengan harga USD 149 atau sekitar Rp 2,4 juta.

KALIMANTAN TIMUR — Setelah sepekan memakai Beyerdynamic DT 275 Pro untuk monitoring video dan mendengarkan musik, satu hal yang langsung terasa: bass-nya bertenaga besar, tapi justru itu yang sering menenggelamkan detail treble di lagu bertumpuk. Headphone on-ear closed-back ini dijual USD 149 (sekitar Rp 2,4 juta) atau GBP 99 di Amazon Inggris, sedikit lebih murah dari DT 270 Pro (USD 159), dan menyasar editor video serta casual monitoring yang butuh isolasi suara tanpa ANC.

Beyerdynamic DT 275 Pro hadir sebagai versi on-ear dari jajaran studio monitor mereka, mengandalkan desain closed-back dengan earcup berputar dan headband yang bisa disetel. Berbeda dari DT 270 Pro yang saya uji awal tahun lalu, unit ini tidak punya fitur aktif apa pun — murni headphone pasif dengan kabel 3,5mm yang bisa dipasang ke adaptor 1/4 inci.

Spesifikasi dan Harga: USD 149, Lebih Murah dari DT 270 Pro

Beyerdynamic menjual DT 275 Pro di situs resminya seharga USD 149, sementara di Amazon Inggris dibanderol GBP 99. Karena Beyerdynamic tidak mengirim langsung ke Inggris, pembeli di sana harus lewat retailer pihak ketiga. Warna yang tersedia cuma satu: hitam.

  • Harga: USD 149 / GBP 99 (sekitar Rp 2,4 juta)
  • Tipe: Closed-back, on-ear
  • Respons frekuensi: 5 - 24.000Hz
  • Impedansi: 45?
  • Konektivitas: Kabel 3,5mm (termasuk adaptor 1/4 inci)
  • Berat: 6,88 ons
  • Warna: Hitam

Angka USD 149 ini menempatkan DT 275 Pro sedikit di bawah DT 270 Pro yang dijual USD 159. Menarik, karena secara posisi produk, versi 275 justru lebih baru. Kompetitor terdekat di segmen ini adalah Rode NTH-50 yang lebih murah (USD 109 / GBP 99), tapi menawarkan reproduksi suara bertekstur yang menurut sebagian reviewer lebih cocok untuk produksi musik ketimbang sekadar mendengarkan.

Desain dan Kenyamanan: Sleek, Tapi On-Ear Tetap Menekan Telinga

Dari sisi tampilan, DT 275 Pro terlihat rapi dan profesional. Earcup-nya bisa diputar, jadi saya gampang menyesuaikan posisi agar pas di telinga. Headband-nya empuk dan bisa disetel, sementara lapisan faux leather di earcup terasa lebih nyaman dibanding bahan plush milik DT 270 Pro yang menurut catatan saya cepat panas setelah beberapa jam dipakai.

Sayangnya, desain on-ear memang bukan tipe paling nyaman. Tekanan ke telinga cukup kuat, jadi siap-siap harus menggeser satu earcup keluar sebentar setiap satu-dua jam. Ini bukan cacat produksi, tapi konsekuensi desain yang perlu dipertimbangkan kalau kamu berencana memakainya untuk sesi mendengarkan panjang.

Headphone ini juga dilengkapi kantong drawstring untuk melindungi dari debu saat tidak dipakai. Kabel 3,5mm bisa dicolok ke earcup kiri atau kanan, lalu diputar untuk mengunci — jadi tidak perlu khawatir kabel tercabut saat tersenggol.

Isolasi Suara Pasif: Efektif di Ruangan Ramai

Meski tidak punya ANC, desain closed-back plus bantalan tebal membuat DT 275 Pro cukup efektif meredam suara sekitar. Saya mengujinya di ruangan kantor yang ramai dan hasilnya memuaskan — lebih baik dibanding DT 270 Pro yang menurut pengalaman saya tidak sekuat ini dalam menahan bising luar.

Ini menjadi nilai tambah tersendiri untuk headphone studio yang biasanya justru mengorbankan isolasi demi akurasi suara. Kombinasi padding tebal dan closed-back di sini bekerja di dua sisi sekaligus.

Kualitas Suara: Bass Dominan, Detail Treble Jadi Korban

Profil suara DT 275 Pro terasa agak aneh di awal. Bass-nya berdentum kuat sampai terasa berdenyut di telinga. Masalahnya, frekuensi tinggi seperti simbal dan detail napas vokal jadi tenggelam atau harus bersaing dengan low-end yang mendominasi.

Ketika bass dikurangi — misalnya di lagu akustik dan vokal seperti "Over Country" dari Lizzie McAlpine — barulah karakter aslinya muncul. Vokal terdengar bening, seimbang, dan saya bisa mendengar setiap gerakan jari di fret gitar. Bass yang minim di trek ini justru menambah dimensi, bukan menutupi.

Lagu bertumpuk tebal seperti "Safe and Sound" dari Capital Cities jadi ujian berat. Simbal benar-benar hilang, detail lain mulai menguap. Gitar dan drum masih aman karena punya body cukup untuk melawan bass yang berdenyut. Untuk lagu yang memang bertumpu pada bass, ini bukan kerugian besar, tapi menunjukkan betapa cepat low-end mengambil alih.

Lagu "Witches" dari Alice Phoebe Lou yang upbeat dan groovy justru cocok. Tidak terlalu banyak instrumen, vokal halus, dan instrumen mid-range tetap jelas sepanjang trek. Headphone ini paling bersinar saat materi yang diputar tidak terlalu padat.

Untuk ucapan, DT 275 Pro bekerja sangat baik. Karena dirancang untuk rig filming, saya menguji dengan beberapa audiobook dan tayangan TV — semua dialog terdengar jelas dengan diksi sempurna.

Kelebihan

  • Bass bertenaga dan berdenyut, memuaskan untuk genre yang menuntut low-end
  • Isolasi suara pasif efektif di lingkungan ramai meski tanpa ANC
  • Earcup berputar dan headband bisa disetel, mudah menyesuaikan posisi
  • Kabel bisa dipasang kiri atau kanan dan terkunci, mengurangi risiko tercabut
  • Harga lebih murah dari DT 270 Pro

Kekurangan

  • Treble dan detail frekuensi tinggi mudah tenggelam di lagu bertumpuk
  • Desain on-ear menekan telinga, tidak nyaman untuk sesi panjang
  • Tidak ada ANC, mengandalkan isolasi pasif saja
  • Hanya tersedia warna hitam
  • Bukan pilihan ideal untuk produksi musik yang butuh akurasi

Verdict: Cocok untuk Editor Video dan Casual Monitoring

DT 275 Pro adalah pilihan solid untuk casual monitoring atau editing video. Isolasi pasifnya berguna di ruangan berisik, dan reproduksi suara untuk dialog sangat bersih. Untuk mendengarkan musik, headphone ini paling cocok dengan trek akustik, vokal, atau materi yang tidak terlalu padat.

Kalau kamu butuh akurasi untuk produksi musik, DT 270 Pro tetap lebih unggul dalam replikasi suara meski harganya sedikit lebih mahal. Rode NTH-50 juga layak dipertimbangkan kalau prioritasmu reproduksi bertekstur untuk membuat musik, bukan sekadar mendengarkan.

Bagi pengguna di Indonesia yang terbiasa dengan headphone on-ear murah, DT 275 Pro menawarkan lompatan kualitas yang jelas — asal kamu siap dengan karakter bass yang agresif dan kenyamanan yang harus dikompromikan.

Reporter: Ginanjar Raharjo
Sumber: tomsguide.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top