Produksi Pisang Kaltim Anjlok 60 Persen Akibat Serangan Jamur Fusarium dan Layu Bakteri

Penulis: Ginanjar Raharjo  •  Kamis, 08 Oktober 2026 | 10:01:32 WIB
Produksi pisang Kalimantan Timur tercatat turun sekitar 60 persen akibat serangan jamur Fusarium dan penyakit layu bakteri.

Dinas Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Kalimantan Timur mencatat produksi pisang di wilayahnya turun sekitar 60 persen akibat serangan jamur Fusarium dan penyakit layu bakteri. Penurunan drastis ini terjadi setelah produksi pada 2025 tercatat mencapai 129 ribu ton. DPTPH Kaltim menyiapkan sejumlah strategi pemulihan, mulai dari penguatan SDM petani hingga pembangunan infrastruktur sanitasi lahan.

SAMARINDA — Kepala Bidang Produksi Hortikultura DPTPH Kaltim Kosasih menyatakan penurunan produksi pisang tersebut terungkap dalam webinar "Rabu Sehati Seri 5" bertajuk Pisang Tahan Layu, Kebun Produktif yang diikuti secara virtual dari Samarinda. Komoditas pisang sebelumnya menjadi salah satu penopang utama produksi hortikultura daerah.

Serangan dua patogen sekaligus membuat produksi yang semula 129 ribu ton pada 2025 merosot tajam. Varietas kepok gerecek menjadi salah satu yang paling parah terdampak.

Fusarium dan Layu Bakteri Serang Sentra Pisang

Kosasih menjelaskan, jamur Fusarium dan penyakit layu bakteri menjadi penyebab utama kemerosotan produksi. Kedua penyakit itu menyerang tanaman pisang di sejumlah sentra produksi.

"Produksi kita signifikan, pada tahun 2025 tercatat sebanyak 129 ribu ton. Namun sekarang turun sekitar 60 persen," kata Kosasih.

Menurutnya, situasi ini menciptakan kesenjangan besar di lapangan. Pemerintah dituntut mendongkrak produktivitas, namun di sisi lain harus berhadapan dengan ancaman Organisme Pengganggu Tanaman (OPT).

Jika pengabaian terhadap penyakit ini terus berlanjut, program pengembangan hortikultura yang telah berjalan dikhawatirkan sia-sia dan kehilangan momentum.

Double Way 562 Meter di Golo untuk Putus Rantai Penularan

DPTPH Kaltim merumuskan sejumlah strategi komprehensif. Mulai dari penguatan kualitas Sumber Daya Manusia petani, penyediaan sarana prasarana, hingga intervensi fisik di kawasan pertanian.

Salah satu implementasi konkret adalah pembangunan infrastruktur sanitasi lahan berupa double way atau jalur khusus pengendalian penyakit di kawasan sentra tanaman pisang.

"Kami sudah melakukan berbagai upaya fisik, termasuk membangun double way sepanjang 562 meter di kawasan tanaman pisang di wilayah Golo untuk memutus rantai penularan," ujar Kosasih.

Kolaborasi Jadi Syarat Utama Pemulihan

Kendati eksploitasi komoditas pisang Kaltim masih terbentur dinamika proteksi tanaman, DPTPH Kaltim optimistis pemulihan sektor ini dapat terwujud secara berkelanjutan.

"Syarat utamanya adalah adanya kolaborasi aktif dan kesadaran kolektif dari seluruh elemen," katanya lagi.

Kosasih menegaskan, sasaran pembangunan pertanian tidak bisa bertumpu pada birokrasi semata. Komitmen penuh pelaku usaha serta pelaku utama di lapangan, yakni petani hortikultura, pangan, peternakan, hingga perkebunan, menjadi kunci.

Reporter: Ginanjar Raharjo
Sumber: kaltim.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top