Data NTSB AS: Mobil Hybrid Paling Rentan Terbakar, Bukan Listrik

Penulis: Ginanjar Raharjo  •  Senin, 05 Oktober 2026 | 12:17:01 WIB
Data NTSB AS menunjukkan mobil hybrid mencatat kasus kebakaran tertinggi dibanding bensin dan listrik murni.

KALIMANTAN TIMUR — Data National Transportation Safety Board (NTSB) Amerika Serikat menunjukkan mobil hybrid justru paling rentan terbakar dibanding bensin dan listrik murni. Dari 100 ribu unit masing-masing jenis yang dipantau, hybrid mencatat 3.474,5 kasus kebakaran, bensin 1.529,9 kasus, dan mobil listrik murni hanya 25,1 kasus.

Wakil Ketua Pengembangan dan Penelitian Perkumpulan Industri Kendaraan Listrik Indonesia (Periklindo) Prabowo Kartoleksono membeberkan temuan itu dalam Rapat Dengar Pendapat di DPR. Menurutnya, data tersebut membantah anggapan publik yang selama ini menempatkan mobil listrik sebagai kendaraan paling rawan terbakar.

Prabowo menjelaskan, NTSB memantau tiga jenis kendaraan dalam jumlah setara, masing-masing 100 ribu unit. Hasilnya, kendaraan hybrid menempati posisi teratas sebagai yang paling sering mengalami kebakaran.

Rincian Data Kebakaran Tiga Jenis Mobil

Dari pemantauan 100 ribu unit per kategori, berikut perbandingan kasus kebakaran yang tercatat:

  • Kendaraan hybrid: 3.474,5 kasus kebakaran
  • Kendaraan bensin (ICE): 1.529,9 kasus kebakaran
  • Kendaraan listrik murni (EV): 25,1 kasus kebakaran

"Untuk kendaraan hybrid dari 100 ribu itu ada 3.474,5 kasus kebakaran. 1.529,9 bensin kasus kebakaran. Mobil listrik, pure listrik 25,1 artinya kendaraan bensin itu rentan terbakar dibandingkan dengan listrik," ujar Prabowo.

Mengapa Hybrid Lebih Rentan Terbakar

Prabowo menyebut mobil hybrid mengusung dua sumber tenaga sekaligus, yakni baterai bertegangan tinggi dan bahan bakar bensin. Kombinasi keduanya membuat potensi kebakaran lebih besar ketika ada satu faktor pemicu yang terbuka.

"Kalau hybrid itu masuk akal karena ada energi tegangan listrik dan uap bensin kalau salah satu faktor terbuka misalnya uap bensin dan tegangan tinggi itu pasti kebakaran, makanya kasusnya lebih besar," jelasnya.

Menurut Prabowo, sedikit saja muncul titik api pada kendaraan hybrid, kondisi itu bisa dengan cepat memicu kebakaran yang lebih besar. Ia menegaskan temuan ini bukan data yang direkayasa.

Mobil Listrik: Kasus Sedikit tapi Viral

Untuk kendaraan listrik murni, insiden kebakaran tercatat jauh lebih jarang. Prabowo menyebut kebakaran pada EV umumnya dipicu arus pendek akibat modifikasi kendaraan, atau fenomena thermal runaway pada baterai.

Meski angkanya kecil, setiap insiden kebakaran mobil listrik hampir selalu menjadi sorotan luas. Prabowo menilai hal itu terjadi karena eksposur media yang besar terhadap kendaraan listrik.

"Sebenarnya kasusnya nggak banyak tapi karena itu mobil listrik itu jadi viral karena terekspos," tutur Prabowo.

Apa Artinya untuk Konsumen Indonesia

Data NTSB ini memberi gambaran bahwa risiko kebakaran tidak bisa disederhanakan menjadi sekadar "listrik berbahaya". Kendaraan hybrid yang menggabungkan baterai dan bensin justru mencatat kasus tertinggi dalam pemantauan tersebut.

Bagi calon pembeli di Indonesia, temuan ini bisa menjadi bahan pertimbangan tambahan saat memilih antara mobil bensin, hybrid, atau listrik murni. Perawatan rutin pada sistem kelistrikan dan bahan bakar tetap menjadi kunci utama menekan risiko kebakaran, terlepas dari jenis kendaraan yang dipakai.

Reporter: Ginanjar Raharjo
Sumber: oto.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top