KALIMANTAN TIMUR — Sebanyak 40 ayah balita di Kelurahan Bello, Kota Kupang, mengikuti kelas pengasuhan khusus yang digelar Fakultas Kedokteran dan Kedokteran Hewan Universitas Nusa Cendana. Kegiatan ini menegaskan bahwa pencegahan stunting bukan hanya tugas ibu, melainkan tanggung jawab bersama seluruh anggota keluarga.
Selama ini edukasi gizi dan kesehatan anak lebih sering menyasar para ibu. Padahal, ayah memegang kunci penting dalam pengambilan keputusan keluarga, termasuk soal asupan makanan dan pemantauan tumbuh kembang si kecil.
Tim dosen FKKH Undana pun menggelar Pengabdian kepada Masyarakat bertema "Father Involvement Class untuk Penguatan Peran Ayah dalam Pencegahan Stunting Berbasis Keluarga". Kegiatan berlangsung di Kelurahan Bello, Kecamatan Maulafa, pada Kamis, 1 Oktober 2026, pukul 09.00–12.00 WITA.
Ketua tim pengabdian, Syahrir, S.Kep., M.Si., menjelaskan program ini lahir dari kebutuhan memperkuat upaya pencegahan stunting di Nusa Tenggara Timur. Menurutnya, edukasi selama ini terlalu berat di sisi ibu.
"Ayah memiliki peran penting sebagai pengambil keputusan di dalam keluarga, pemberi dukungan emosional dan ekonomi, serta pendamping dalam proses tumbuh kembang anak," ujar Syahrir.
Melalui kelas ini, para ayah diajak memahami bahwa mengasuh anak adalah tanggung jawab bersama, bukan beban satu pihak saja.
Peserta mendapatkan edukasi soal berbagai bentuk keterlibatan ayah dalam pencegahan stunting. Mulai dari mendukung ibu dalam pengasuhan, mendampingi anak saat makan, hingga rutin mengikuti pemantauan tumbuh kembang di posyandu.
Para ayah juga dilatih menyiapkan makanan bergizi dengan memanfaatkan bahan pangan lokal. Materi disampaikan secara interaktif lewat diskusi kelompok, simulasi pemberian makan, dan latihan menyusun menu keluarga.
Metode ini memberi ruang bagi peserta untuk berbagi pengalaman soal pola pengasuhan yang selama ini diterapkan di rumah masing-masing.
Tim FKKH Undana memperkenalkan kampanye dengan slogan "Ayah hadir, ayah peduli, ayah terlibat". Kampanye ini ingin menumbuhkan kesadaran bahwa kehadiran ayah bukan sekadar soal ekonomi.
Ayah diharapkan terlibat langsung dalam pengasuhan, mendukung kesehatan ibu dan anak, serta memastikan kebutuhan tumbuh kembang anak terpenuhi. Caranya bisa lewat hal sederhana seperti menemani anak makan, memilih makanan bergizi, menghadiri posyandu, atau berdiskusi dengan ibu soal perkembangan anak.
Program ini melibatkan tim dosen FKKH Undana dengan Syahrir, S.Kep., M.Si. sebagai ketua. Anggotanya Dr. Audrey Gracelia Riwu, S.Kep., Ns., M.Imun.; Insani Fitrahulil Jannah, S.K.M., M.Biomed.; dan dr. Nimas Prita Rahajeningtyas Kusuma Wardani, M.Biomed.
Rahel Rara Woda, S.Si., M.K.M. hadir sebagai narasumber. Kegiatan juga didukung tenaga kependidikan Jean Carolyn V. Sir, S.K.M., serta mahasiswa Program Studi Pendidikan Dokter FKKH Undana. Program ini memperoleh pendanaan dari LPPM Universitas Nusa Cendana.
Pemerintah Kelurahan Bello menyampaikan apresiasi atas kegiatan yang menyasar langsung para ayah balita. Mereka berharap pengetahuan yang diperoleh tidak berhenti setelah acara selesai.
Peserta diharapkan menerapkan ilmunya dalam kehidupan sehari-hari dan membagikan informasi kepada keluarga maupun tetangga di lingkungan tempat tinggal.
Dengan keterlibatan ayah yang lebih aktif, pola pengasuhan di keluarga diharapkan menjadi lebih kolaboratif. Ayah dan ibu bisa bersama-sama memastikan kebutuhan gizi, kesehatan, serta tumbuh kembang anak mendapat perhatian sejak dini.