KALIMANTAN TIMUR — Lukman Sardi kembali memerankan Romo Rendra dalam Kuasa Gelap: Perjanjian Darah dan harus menguasai doa berbahasa Latin untuk adegan eksorsisme. Ia mengaku butuh waktu tiga bulan latihan agar pelafalannya tidak sekadar hafalan.
Persiapan peran Romo Rendra tidak berhenti pada pendalaman karakter. Lukman Sardi menjalani latihan intensif doa berbahasa Latin bersama pemain lain, dipandu Romo Rubini sejak film pertama Kuasa Gelap.
Latihan itu berlanjut ke sekuel terbaru. Menurut Lukman, doa Latin bukan teks yang cukup dihafal, melainkan harus dipahami maknanya agar bisa dihayati saat adegan eksorsisme berlangsung.
Lukman menegaskan pelafalan yang terdengar benar saja tidak cukup. Para pemain dituntut mengerti arti setiap kalimat doa supaya penghayatannya terasa di layar.
"Ini bukan sekadar untuk menghafal, tapi supaya benar-benar kita juga menjadi ini sebuah doa, tentu harus kita mengerti juga bahasa Latin itu artinya apa. Bukan sekadar pelafalan aja," katanya.
Proses belajar doa Latin bukan hal baru bagi Lukman. Ia menyebut latihan sudah berjalan sejak Kuasa Gelap pertama, dengan pendampingan langsung dari Romo Rubini.
"Intinya tentu kita punya momen untuk latihan ya. Dari yang awal Kuasa Gelap pertama pun kita sudah, dari Romo Rubini juga melatih kita untuk berdoa dalam bahasa Latin," ujar Lukman.
Dalam sekuel ini, Lukman kembali memerankan Romo Rendra yang terlibat dalam adegan eksorsisme. Adegan-adegan tersebut menuntut penguasaan doa Latin yang fasih sekaligus penghayatan emosional.
Pernyataan Lukman disampaikan saat press screening dan press conference film Kuasa Gelap: Perjanjian Darah pada Senin (28/9/2026) di Jakarta.
Pendekatan Lukman menyimpan pelajaran sederhana untuk ibu di rumah. Ketika anak menghafal doa atau bacaan tertentu, memahami artinya membantu mereka mengucapkannya dengan lebih sungguh, bukan sekadar lancar di mulut.
Meluangkan waktu menjelaskan makna satu per satu, seperti yang dilakukan Lukman bersama Romo Rubini, bisa membuat proses belajar terasa lebih bermakna bagi anak.
Ketekunan Lukman selama tiga bulan menunjukkan hasil latihan yang konsisten lebih berharga daripada sekadar menghafal cepat. Prinsip yang sama berlaku saat mendampingi anak belajar hal baru di rumah.