11 Tahun GMSS-SKM Samarinda Rawat Karang Mumus, 23 Pasang Peserta Dayung Pungut Sampah di Hari Sungai Sedunia

Penulis: Hendra Setiawan  •  Selasa, 29 September 2026 | 09:34:31 WIB
Peserta mendayung sambil memungut sampah di Sungai Karang Mumus, Samarinda, Kalimantan Timur.

Gerakan Memungut Sehelai Sampah Sungai Karang Mumus (GMSS-SKM) Samarinda merayakan ulang tahun ke-11 dengan aksi dayung pungut sampah di Sungai Karang Mumus, Kalimantan Timur, bertepatan Hari Sungai Sedunia. Sebanyak 23 pasang peserta dewasa, 16 pasang anak-anak, dan puluhan peserta kelas dayung menyusuri sungai membawa papan dayung sambil memungut sampah. Total hadiah Rp20 juta disiapkan, tetapi peserta menilai kebersihan sungai jauh lebih berharga.

SAMARINDA — Alih-alih menggelar pesta di dalam ruangan, komunitas GMSS-SKM Samarinda memilih beraksi langsung di atas air Sungai Karang Mumus. Mereka mendayung, bergerak bersama, dan memungut sampah yang mengotori nadi kota tersebut. Aksi itu menjadi penanda perjalanan sebelas tahun gerakan swadaya yang dimulai dari sekelompok pemuda.

Perlombaan dibagi ke beberapa kategori. Ada lomba memungut sampah berpasangan untuk dewasa dan anak-anak, serta Fun Paddling terbuka untuk pria, wanita, dan remaja.

23 Pasang Peserta Dewasa Turun ke Air

Antusiasme warga terlihat nyata. Sebanyak 23 pasang peserta dewasa, 16 pasang anak-anak, serta puluhan peserta kelas dayung menyusuri sungai. Total hadiah berupa uang tunai dan voucer senilai Rp20 juta turut diperebutkan.

Di kategori pasangan dewasa, Afra Mei Sabrina dan Ilham keluar sebagai pemenang. Rayyan dan Habibi menjuarai kategori anak-anak. Adapun pada kelas dayung perseorangan, posisi teratas ditempati Afra Mei Sabrina (putri), Uwowo (putra), dan Habibi (remaja).

Bagi mayoritas peserta, kepuasan terbesar bukan piala yang dibawa pulang. Mereka menilai kontribusi langsung membersihkan Karang Mumus jauh lebih berarti.

Misman dan Sampah yang Dilempar ke Depannya

Ketua GMSS-SKM Samarinda Misman menyimpan satu kenangan yang tak pernah ia lupakan. Suatu hari saat sedang memungut sampah di tepian, seseorang tiba-tiba melempar sampah tepat di hadapannya. Alih-alih menegur dengan amarah, ia memilih diam.

"Saya sengaja tidak menegurnya," kenang Misman. "Saya biarkan saja. Saya berharap orang itu merasa tersindir, menyadari kesalahannya, dan tidak mengulanginya lagi."

Pendekatan halus itu rupanya lebih menyentuh ketimbang teguran keras. Perlahan, perubahan mulai terlihat.

"Apakah sekarang sudah tidak ada lagi yang membuang sampah ke sungai? Tentu masih ada," akunya jujur. "Namun, jumlahnya sudah jauh berkurang. Kemajuan itulah yang membuat kami terus melangkah."

Sebelas tahun bukan waktu singkat untuk konsisten menjaga sungai. Misman menyebut perjuangan itu diisi dengan memungut sampah setiap pekan, menyapa warga, hingga mengedukasi bahwa sungai adalah sumber kehidupan, bukan tempat pembuangan.

Merawat Bantaran agar Tak Longsor

Selain membersihkan air, GMSS-SKM aktif merawat bantaran sungai. Mereka menanam dan menjaga pohon di sepanjang tepian agar akarnya mengikat tanah dan mencegah longsor. Bagi komunitas ini, sungai bukan sekadar aliran air, melainkan ruang hidup yang butuh dirawat.

Membina Dayung dan Renang untuk Generasi Muda

GMSS-SKM kini membina olahraga dayung dan renang bagi generasi muda Samarinda. Menurut mereka, banyak anak muda setempat yang tidak bisa berenang, apalagi mendayung—padahal keahlian tersebut merupakan warisan leluhur Kalimantan.

"Para pendahulu kita memiliki hubungan yang sangat akrab dengan sungai. Kami ingin mengembalikan ikatan itu, bukan hanya untuk olahraga, melainkan agar mereka mencintai sungai dengan cara mengenalnya lebih dekat," ujar Ketua Penyelenggara Krisdiyanto.

Pemkot Samarinda Nilai Gerakan Layak Jadi Percontohan

Gerakan swadaya yang dimulai dari sekelompok orang ini menarik perhatian pemerintah daerah. Sekretaris Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata Kota Samarinda Andy Ariefin hadir menyaksikan langsung semangat para peserta.

Baginya, GMSS-SKM membuktikan bahwa perubahan besar dapat dimulai dari langkah kecil yang dilakukan secara tulus dan bersama-sama. Ia menilai gerakan ini patut menjadi percontohan bagi program kepemudaan.

Kesadaran masyarakat untuk bergerak mandiri tanpa menunggu perintah disebutnya sebagai kekuatan utama dalam menjaga lingkungan. Sungai Karang Mumus pun diharapkan berpotensi menjadi destinasi wisata yang bersih, indah, dan dikelola langsung oleh warga.

Reporter: Hendra Setiawan
Sumber: kaltim.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top