KALIMANTAN TIMUR — Perum Perumnas menyiapkan 768 unit hunian subsidi bagi masyarakat berpenghasilan rendah di tiga kawasan Transit-Oriented Development (TOD) yang terintegrasi dengan layanan KRL. Langkah ini menempatkan akses transportasi publik dan jarak ke pusat aktivitas sebagai ukuran baru keterjangkauan hunian, bukan sekadar harga rumah.
Perumnas menggandeng PT Kereta Api Indonesia (Persero) untuk mengintegrasikan kawasan hunian dengan sistem transportasi publik. Konsep TOD dipilih agar penghuni bisa lebih mudah menjangkau pusat bisnis, pendidikan, perdagangan, hingga fasilitas perkotaan lain tanpa harus menempuh perjalanan panjang setiap hari.
Plt. Direktur Utama Perum Perumnas Imelda Alini Pohan menegaskan keterjangkauan hunian bagi MBR tidak cukup diukur dari harga jual saja. Lokasi dan mobilitas harian ikut menentukan seberapa ringan biaya hidup penghuni.
"Hunian yang terjangkau bagi MBR tidak cukup hanya diukur dari harga rumah. Lokasi, akses terhadap transportasi publik, serta biaya dan waktu perjalanan sehari-hari juga menentukan keterjangkauan yang sesungguhnya," ujar Imelda dalam keterangan tertulis, Kamis (24/9/2026).
Dari total 768 unit hunian subsidi, sebanyak 330 unit berada di Samesta Mahata Serpong. Sisanya tersebar di Samesta Mahata Tanjung Barat sebanyak 256 unit dan Samesta Mahata Margonda sebanyak 182 unit.
Seluruh unit subsidi di sejumlah hunian TOD Perumnas, terutama di Margonda dan Tanjung Barat, sudah terserap habis. Tingginya permintaan itu membuat Perumnas berencana membangun tower hunian subsidi baru di Samesta Mahata Serpong.
Perumnas juga mengembangkan hunian subsidi di sejumlah lokasi strategis lain, seperti Samesta Sentraland Cengkareng, Samesta Grand Sentraland Karawang, Samesta Jakabaring Palembang, Proyek Jatim II Pasuruan, dan Proyek Cirebon.
Di Jakarta, Perumnas membangun Samesta Alonia Jakarta di Kemayoran dengan 609 unit hunian subsidi vertikal. Proyek ini menyasar warga yang butuh tempat tinggal lebih dekat ke pusat aktivitas, sekaligus mengoptimalkan lahan terbatas di ibu kota.
Imelda menyebut Perumnas ingin menghapus dilema lama yang dihadapi MBR: memilih rumah murah tapi jauh, atau lokasi strategis tapi tak terjangkau.
"Perumnas ingin agar MBR tidak selalu dihadapkan pada pilihan antara rumah yang terjangkau tetapi jauh dari pusat aktivitas, atau lokasi yang strategis tetapi tidak terjangkau. Melalui TOD, pengembangan hunian subsidi vertikal maupun landed, Perumnas berupaya menghadirkan alternatif hunian yang lebih dekat, terkoneksi dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat perkotaan," kata Imelda.
Langkah Perumnas menyambung target pemerintah lewat Program 3 Juta Rumah. Program itu tidak hanya menuntut jumlah unit yang besar, tetapi juga penempatan hunian yang terkoneksi dengan jaringan transportasi dan pusat ekonomi.
Bagi penghuni, dampaknya terasa langsung pada pengeluaran harian. Ongkos transportasi dan waktu tempuh yang lebih pendek memberi ruang lebih besar bagi MBR untuk mengalokasikan penghasilan ke kebutuhan lain.
Bagi pasar properti, model TOD menandai pergeseran cara pengembang menilai kelayakan proyek. Kedekatan dengan stasiun dan simpul transportasi kini jadi nilai jual tersendiri, bukan pelengkap.
Perumnas menempatkan diri sebagai pengembang yang menyasar segmen bawah, sehingga keberhasilan penyerapan unit di Margonda dan Tanjung Barat menjadi indikasi permintaan riil terhadap hunian murah yang dekat tempat kerja. Rencana penambahan tower di Serpong akan menjadi ujian berikutnya.