HARGAI 2026 Usung Tema "We Will Fight": UniPin Buka Jalan Game Lokal Indonesia Tembus Pasar Global

Penulis: Hendra Setiawan  •  Selasa, 11 Agustus 2026 | 16:21:01 WIB
Ashadi Ang, CEO UniPin, menyampaikan dukungannya bagi pengembang game lokal dalam gelaran HARGAI 2026 di Kalimantan Timur.

KALIMANTAN TIMUR — Industri game Indonesia tengah berada di persimpangan penting. Di satu sisi, pasar domestik terus tumbuh, namun di sisi lain, karya lokal masih kesulitan menembus pasar global. Lewat gelaran HARGAI 2026, sektor ini mencoba mencari jawaban atas tantangan tersebut. Karpet Merah untuk Developer Lokal

UniPin, penyedia layanan top-up digital yang sudah beroperasi 15 tahun, hadir dengan klaim siap menjadi jembatan bagi publisher lokal. Ashadi Ang, CEO UniPin, menyebut perusahaannya memiliki infrastruktur dan data perilaku pengguna yang bisa dimanfaatkan developer untuk ekspansi.

"Kalau kita bicara apa yang bisa diberikan kepada game publisher lokal, kami ingin memberikan karpet merah. Infrastruktur yang sudah dibangun oleh UniPin selama 15 tahun diharapkan bisa menjadi jalan bagi karya-karya anak bangsa untuk berkembang dan naik daun di pasar global," ujar Ashadi dalam sesi talkshow bersama Dream Forge Creation, Sabtu (9/8).

Data yang dimaksud bukan sekadar angka transaksi. UniPin mengklaim memahami perilaku pengguna, seperti waktu top-up hingga preferensi pembayaran di berbagai negara. Informasi ini krusial bagi developer yang ingin merilis game di region dengan zona waktu dan karakter pemain berbeda. Kolaborasi Jadi Kunci Peningkatan Kualitas

Semangat HARGAI 2026 sejalan dengan pandangan Asosiasi Game Indonesia (AGI). Presiden AGI, Shafiq Husein, menilai karya lokal butuh ruang untuk mencoba dan belajar bersaing berdasarkan kualitas, bukan sekadar belas kasihan.

"Pertumbuhan industri tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan developer dalam menciptakan produk. Kolaborasi antara pemerintah dan stakeholder diperlukan untuk mempercepat komersialisasi sekaligus membuka akses yang lebih luas bagi game Indonesia," tambah Teuku Riefky Harsya dalam sambutannya.

Acara ini melibatkan Kementerian Ekonomi Kreatif, Kementerian Komunikasi dan Digital, Kementerian Perdagangan, serta Pemprov DKI Jakarta. Kehadiran Dream Forge Creation, Agate, dan Mankibo menunjukkan ekosistem pengembang sedang bergerak bersama. Komunitas Sebagai Pondasi Ekspansi

Dukungan UniPin tidak berhenti pada infrastruktur transaksi. Sejak 2017, perusahaan ini memiliki divisi Community yang fokus mempertemukan publisher dengan pemain.

Strategi ini dinilai penting karena game lokal yang ingin go international butuh basis pengguna yang kuat di dalam negeri terlebih dahulu. Komunitas menjadi sarana untuk membangun loyalitas dan mendapatkan umpan balik sebelum merambah pasar yang lebih luas.

"Ketika game lokal masuk ke UniPin, kami sudah memiliki pemahaman mengenai perilaku pengguna. Misalnya, kapan pengguna melakukan top up dan bagaimana perilaku mereka," jelas Ashadi. Target Jangka Panjang Ekosistem Game

HARGAI 2026 yang mengusung tema "We Will Fight: Perjuangan Kolektif untuk Eksistensi Game Lokal" menegaskan bahwa Indonesia tidak ingin selamanya menjadi pasar konsumen. Targetnya jelas: membawa cerita dan budaya lokal ke panggung internasional.

Dengan dukungan infrastruktur dari platform seperti UniPin dan dorongan kebijakan dari pemerintah, para developer kini punya pijakan lebih kuat. Pertanyaannya, siapa game lokal berikutnya yang sanggup menembus pasar global dan bersaing dengan judul-judul AAA?

Reporter: Hendra Setiawan
Sumber: esports.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top